DBS NEWS, SOPPENG – Penelitian yang dilakukan mahasiswa Prodi Ilmu Pemerintahan, STISIP Petta Baringeng, Suhartini Mahmud mengungkap, perilaku politik masyarakat etnis keturunan Tionghoa di Kabupaten Soppeng, khususnya di Kecamatan Lalabata.
Penelitian ini pun telah dipublikasikan dalam Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi (Metansi) Volume 6 Nomor 1, pada April 2023 lalu.
Dalam penelitiannya, Suhartini menulis, bahwasanya masyarakat etnis keturunan Tionghoa di Soppeng sudah cukup andil dalam berpartisipasi politik, hanya saja mereka berpartisipasi secara tertutup dengan tidak mengikuti kegiatan politik secara terbuka.
Hal itu dianggap sebagai cara yang paling aman menurut mereka dalam berapresiasi pada kegiatan politik atau kegiatan kenegaraan.
Masyarakat etnis keturunan Tionghoa di Soppeng juga disebut lebih mengutamakan waktunya untuk perihal pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, dibandingkan untuk mengikuti kegiatan politik maupun kegiatan pemilihan umum (pemilu), anggota atau pengurus partai politik.
Hal itu bisa dibuktikan dengan melihat tingkat partisipasi pemilih dari masyarakat etnis keturunan Tionghoa dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), khususnya di lokasi penelitian yaitu di Kecamatan Lalabata.
Menjadi Kecamatan yang memiliki jumlah masyarakat etnis Tionghoa paling banyak dibandingkan dengan kecamatan lain yang ada di Kabupaten Soppeng. Partisipasi pemilih masyarakat keturunan Tionghoa di wilayah tersebut justru hanya 45,4 persen dari Data Pemilih Tetap (DPT).
Di mana sebagian besar masyarakat keturunan Tionghoa di wilayah Kecamatan Lalabata adalah pedagang dan bekerja di sektor swasta yang menyebabkan status sosial ekonomi mereka termasuk kategori menengah ke bawah.
“Mereka hanya berpartisipasi dengan melihat dan melaksanakan sistem yang telah ditentukan oleh Elit Politik, hal tersebut didukung dari alasan penghasilan mereka yang berada dikategori rendah, sehingga masyarakat lebih mengutamakan perihal pekerjaan bukan pada kegiatan politik atau kenegaraan,” tulis Suhartini dalam penelitiannya.
Hasil penelitian ini juga menyebutkan, bahwasanya masyarakat etnis keturunan Tionghoa di Soppeng menjatuhkan pilihan politiknya berdasarkan tiga faktor, yakni faktor lingkungan, sosiologis dan psikologis.
Tiga faktor tersebut sangat dipengaruhi oleh informasi yang mereka terima melalui media atau iklan politik. serta pengetahuan yang diperoleh tentang profil partai, figur caleg, serta visi dan misi kandidat.
Hal tersebut harus berkorelasi dengan kondisi lingkungan dimana mereka tinggal, serta mendukung faktor psikologis masyarakat etnis Tionghoa.
“Sebagian menentukkan pilihan politiknya dengan memilih kandidat yang dilihat dan dianggap mampu menampung dan memperjuangkan aspirasi mereka sebagai warga etnis tionghoa,” ungkap Suhartini dalam kesimpulannya. (id)







Komentar