DBS NEWS, SOPPENG – Stigma bahwa pekerjaan mengurus rumah sepenuhnya hanya dilakukan oleh kaum hawa nampaknya mulai bergeser.
Buktinya di Kabupaten Soppeng, ada 3.649 laki-laki yang lebih memilih bekerja mengurus rumah tangga atau biasa dikenal sebagai ‘Bapak Rumah Tangga’.
Bapak rumah tangga adalah ayah atau suami yang lebih memilih melepaskan statusnya sebagai pencari nafkah utama dan memilih mengurus berbagai pekerjaan rumah tangga, seperti memasak, bersih-bersih, serta merawat dan membesarkan anak di rumah.
Jumlah tersebut berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Soppeng pada tahun 2021.
Angka tersebut sekitar 2 persen dari total jumlah penduduk usia kerja di Kabupaten Soppeng yang mencapai 184.795 orang.
Jika dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah laki-laki yang mengurus rumah tangga mengalami kenaikan. Dimana di tahun 2020, jumlahnya hanya mencapai 2.990 orang atau 1,6 persen dari jumlah penduduk usia kerja di Kabupaten Soppeng.
Sebagai perbandingan, jumlah perempuan yang mengurus rumah tangga pada tahun 2021, ada sebanyak 49.759 orang. Sedangkan di tahun 2020, sebanyak 53.193 orang.
Dikutip dari Jurnal Penelitian berjudul “Fenomena Bapak Rumah tangga” karya Rici Tria Viona, Mahasiswi Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas Padang, disebutkan dua faktor penyebab laki-laki rela memilih menjadi Bapak Rumah Tangga.
Dua faktor tersebut terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal. Dilihat dari faktor internal yaitu karena pendidikan yang tidak memadai, dan karena skill atau keterampilan yang tidak dimiliki membuat figur ayah tidak mampu untuk mendapatkan kesempatan kerja.
“Dari faktor eksternal, yaitu karena kehilangan pekerjaan dan tidak ada yang mengasuh anak atau tidak ingin anaknya di asuh orang lain. Sementara penghasilan istri lebih besar karena karir istri lebih baik dari pada suami,” tulis Rici Tria Viona dalam penelitiannya.
Sementara itu dikutip dari okezone, Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo, menilai fenomena ‘Bapak Rumah Tangga’ ini sudah sangat lumrah, tapi tidak dipungkiri juga norma di negara ini menganggap hal tersebut salah besar.
“Kita masih terkurung dalam konsep hirarki, laki-laki sebagai kepala keluarga mesti mencari uang di luar dan ibu di rumah memastikan kebutuhan dan kondisi rumah selalu baik,” terang Vera.
Vera menegaskan bahwa kondisi laki-laki yang fokus mengurus rumah tangga boleh-boleh saja tapi ada beberapa hal yang mesti disepakati oleh istri maupun suami.
Hal Itu menjadi sangat penting karena jika ada beban yang tidak tersampaikan, bisa saja menjadi kendala di kemudian hari terkait konsep ‘Daddy in home’ ini.
“Antara suami dan istri harus menyepakati perannya apa saja dalam konsep ini, jangan sampai konsep tanggung jawab dasarnya tidak diikuti. Selain itu, antara suami dan istri wajib terbuka satu sama lainnya, termasuk perihal penghasilan perbulan. Emosi di antara keduanya juga perlu dibicarakan supaya terjadi komunikasi yang baik,” kata Vera.
Sementara itu, serangan dari luar juga harus siap diterima. Serangan di sini maksudnya adalah cibiran keluarga, tetangga, saudara, pun teman-teman harus bisa disikapi dengan dewasa.
“Keputusan ini sulit, tapi ketika anda dan pasangan sudah sepakat dengan segala keputusannya, maka jangan ragu untuk melawan serangan,” tambah Vera. (id)







Komentar