Bupati Soppeng, Andi Kaswadi Razak (tengah) saat berkunjung ke rumah warga (foto: Ical)
DBS NEWS, SOPPENG – Festival Lagaligo di Kabupaten Soppeng memang telah lama berlalu.
Namun cerita di balik festival yang dilaksanakan pada tahun 2018 tersebut masih sering dibahas, khususnya oleh mereka yang terlibat langsung dalam kegiatan tersebut.
Salah satunya yang paling menarik adalah cerita yang disampaikan oleh Bupati Soppeng, Andi Kaswadi Razak.
Pengakuan Kaswadi, ia sebenarnya terpaksa harus menjadikan Kabupaten Soppeng sebagai tuan rumah Festival Lagaligo saat itu.
“Saya melakukan seperti itu (menjadi tuan rumah Festival Lagaligo.Red) dalam kondisi terdesak,” ujar Kaswadi, Sabtu (18/2/2023).
Menurut Kaswadi, saat itu UNESCO mengancam akan mencabut gelar penghargaan naskah Lagaligo sebagai naskah terpanjang di dunia jika tidak dilaksanakan seminar.
Sementara saat itu, tidak ada satu daerah pun di Sulawesi Selatan yang mau mengajukan diri sebagai tuan rumah pelaksanaan seminar.
“24 Kabupaten/Kota tidak ada yang mau tampil, padahal kalau tidak dilaksanakan ini seminar maka gelar itu dicabut. Saya melihat kanan-kiri, tidak ada daerah yang bergerak,” ujar Kaswadi.
Atas dasar itulah, Kaswadi akhirnya mengambil keputusan untuk menjadikan Soppeng sebagai tuan rumah seminar Lagaligo, yang selanjutnya dikemas sebagai Festival Lagaligo dengan tidak hanya melaksanakan seminar namun juga pameran dan kegiatan budaya lainnya.
“Apa boleh buat, walaupun dengan kemampuan yang pas-pasan, saya tampil. Soppeng siap menjadi pelaksana Festival Lagaligo.”
“Ini masalah harga diri, bayangkan jika naskah yang sudah kita bangga-banggakan itu tiba-tiba hilang karena persoalan kepedulian kita,” ujar Kaswadi. (id)







Komentar