Ilustrasi
DBS NEWS, SOPPENG – Kehidupan seseorang tidak dapat dipisahkan dari stres. Stres dapat terjadi dimana saja, kapan saja dan oleh siapa saja.
Stres dapat membantu seseorang menjadi lebih waspada dan antisipasi ketika dibutuhkan. Tetapi bila terlalu berat dan berlangsung lama, stres dapat menyebabkan gangguan emosi dan fisik.
Berdasarkan temuan terbaru tentang interaksi pikiran dan tubuh, diperkirakan bahwa sebanyak 80% dari semua masalah yang berkaitan dengan kesehatan disebabkan atau diperburuk oleh stres.
Lantas seperti apa gambaran tingkat stres di kalangan masyarakat Soppeng. Berikut fakta-fakta yang berhasil DBS News rangkum dari sejumlah penelitian dan riset :
Stres Kerja Masyarakat Soppeng
Stres kerja adalah perasaan yang menekan atau merasa tertekan yang dialami karyawan dalam menghadapi pekerjaan.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Fakuktas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Alauddin Makassar tahun 2018 lalu, mengungkap tingkat stres yang dialami para pekerja di Kota Soppeng.
Mengambil sampel 45 karyawan Bank di Kota Soppeng, hasil penelitian menunjukkan bahwa, sebanyak 48,9 persen responden mengaku mengalami stres kerja ringan.
Tak hanya itu, sebanyak 40 persen lainnya juga mengaku mengalami stres kerja sedang, dan 4,4 persen mengalami stres kerja berat.
Hanya ada sekitar 6,7 persen karyawan yang menilai diri mereka tidak mengalami stres kerja.
Akibat stres kerja yang dialami, para karyawan tersebut mengaku mengalami sejumlah gejala stres yang bersifat fisik, psikologis dan perilaku.
Gejala stres yang bersifat fisik biasanya meliputi kesulitan bernafas, selalu cemas, lemas, keringat berlebihan, sulit menelan, detak jantung meningkat atau melemah, dan sering gemetar.
Sedangkan pada gejala stres yang bersifat psikologis, tergambar dari sulitnya karyawan untuk berkonsentrasi, merasa bosan dengan pekerjaan rutin yang dilakukan dan terkadang mudah tersinggung.
Sementara gejala stres yang bersifat perilaku, bisa dilihat dari menurunnya kualitas hubungan antara manusia, baik hubungan dengan teman maupun dengan anggota keluarga.
Hasil penelitian, sebanyak 84,5 persen karyawan mengaku mengalami gejala stres yang bersifat fisik, 95,5 persen mengalami gejala stres yang bersifat psikologis dan 73,3 persen mengaku mengalami gejala stres yang bersifat perilaku.
“Kebanyakan gejala stres yang dialami responden adalah gejala kategori ringan dan sedang,” tulis peneliti.
Stres Belajar Masyarakat Soppeng
Stres belajar bisa diartikan sebagai tekanan-tekanan yang dihadapi pelajar berkaitan dengan sekolah sehingga berdampak pada kesehatan fisik, psikis, dan performa belajarnya.
Stres belajar yang dialami siswa terjadi bukan hanya semata-mata berasal dari faktor eksternal seperti lingkungan sekolah dan orang tua, namun juga faktor internal, seperti bagaimana siswa mempersepsikan sekolah.
Penelitian yang dilakukan mahasiswa jurusan Bimbingan dan Konseling, Universitas Negeri Makassar di SMA Negeri 3 Soppeng pada tahun 2021, mengungkap tingkat stres belajar para siswa yang menjadi responden berada di kategori tinggi.
Gambaran stres belajar siswa tersebut bisa dilihat dari perilaku belajar responden yang sering menyontek, asal-asalan dalam mengerjakan tugas dan tidak mengumpulkan tugas dengan tepat waktu.
“Gejala stres belajar ini terjadi karena adanya tuntutan naik kelas, menyelesaikan banyak tugas, mendapat nilai ulangan yang tinggi, kecemasan menghadapi ujian, dan tuntutan untuk dapat mengukur waktu belajar,” tulis peneliti.
Menariknya, tingkat stres belajar siswa ini jauh berkurang dan hanya berada pada kategori rendah setelah para responden mendapat konseling realitas.
Konseling realitas merupakan konseling yang membantu para pelajar dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar psikologisnya yang mencakup kebutuhan untuk mencintai dan dicintai, serta kebutuhan untuk merasakan bahwa mereka berguna baik pada diri sendiri maupun bagi orang lain.
Prinsip ini mengajarkan bahwa masing-masing orang memikul tanggung jawab untuk menerima konsekuensi dari tingkah laku sendiri.
“Berdasarkan hasil penelitian, dengan menggunakan teknik konseling realitas memberikan pengaruh yang positif dalam menurunkan dampak stress belajar siswa SMA Negeri 3 Soppeng.”
“Dengan demikian, penerapan teknik konseling realitas ini dinilai efektif untuk diterapkan pada siswa yang mengalami stres belajar yang tinggi,” tulis peneliti. (id)







Komentar