Komunitas Nama Sama, Nomor 3 Cocok untuk Warga Soppeng

DBS NEWS, SOPPENG – Komunitas biasanya dibentuk berdasarkan kesamaan minat, hobi, atau kepedulian para anggotanya terhadap bidang tertentu.

Tapi berbeda dengan kumpulan komunitas ini, yang justru dibentuk karena berdasarkan kesamaan nama anggotanya.

Memiliki nama yang pasaran dan jumlah populasi yang tinggi di Indonesia membuat komunitas-komunitas ini justru memanfaatkannya sebagai wadah untuk menjalin tali persaudaraan.

Berikut ini sejumlah komunitas nama sama di Indonesia yang DBS News rangkum dari berbagai sumber :

1. Paguyuban Asep Dunia (PAD)

Komunitas yang berdiri tanggal 1 Agustus 2010 ini dicetuskan atas dasar ide dari Asep Kambali, seorang sejarawan yang juga pendiri Komunitas Historia Indonesia (KHI).

Komunitas Asep sedunia ini memiliki tujuan untuk memberikan penguatan kepada para Asep agar memiliki kepercayaan diri karena menyandang nama Asep.

Komunitas ini memiliki beberapa program unggulan yang telah dilaksanakan. Sebut saja, KAA (Konferensi Asep Asep), Kurawa (Kurban Asep untuk Warga), Arjuna (Asep Rescue Terjun Bencana), Asep Award, Beasiswa Asep, dan Hari Asep Sedunia yang digelar setiap tanggal 1 Agustus.

Dari program-program tersebut, PAD berhasil mendapatkan rekor sebagai “Pemrakarsa konferensi dengan peserta yang memiliki nama yang sama terbanyak” dari Original Record Indonesia (ORI).

2. Persaudaraan Bambang Sedunia (PBS)

Komunitas ini dibentuk pada tahun 2017, yang diawali dengan acara buka puasa bersama oleh para pemilik nama Bambang.

Kini, jumlah anggota komunitas Bambang sedunia ini sudah mencapai ribuan anggota.

Dilihat dari laman Facebook komunitas ini, Persaudaraan Bambang Sedunia telah diikuti 3,7 juta member.

Bukan hanya berkumpul untuk silaturahmi dan menjalin relasi, PBS pun tak jarang menggelar kegiatan sosial. PBS juga mengusung misi melestarikan nama Bambang agar tidak punah di Tanah Air.

3. Agus-Agus Bersaudara Indonesia (AABI)

Semua anggota komunitas ini memiliki nama Agus. Syarat bergabung komunitas ini cukup mudah, anda hanya perlu menunjukan biodata diri.

Komunitas ini dibentuk pada tahun 2015 silam dan kabarnya telah memiliki lebih dari 10 Ribu anggota yang tersebar di seluruh Indonesia.

Komunitas yang memiliki kantor pusat di Garut ini juga mempunyai dewan pengurus, program kerja, dan musyawarah besar yang rutin diadakan.

Kepengurusan AABI terbagi tiga, yaitu Dewan Agus Pusat (DAP), Dewan Agus Cabang (DAC), dan Dewan Agus Daerah (DAD).

Selain itu, para Agus ini bahkan memiliki laman dan media sosial khusus untuk mengunggah kegiatan, aktivitas kepengurusan, bahkan produk-produk jualan anggotanya.

4. Paguyuban Sugeng (PS)

Paguyuban Sugeng ini dibentuk sebagai perwujudan rasa bangga atas nama Sugeng sekaligus menjalin ikatan saudara dengan orang-orang bernama Sugeng, meskipun tidak memiliki pertalian darah sama sekali.

Paguyuban ini terbentuk pada tahun 2008 dan memilki kantor pusat di Bantul.

Saat ini, Paguyuban sugeng memiliki sekira 7.500 anggota dari seluruh Indonesia. Mayoritas anggotanya tersebar di Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara, hingga Kalimantan.

Paguyuban ini juga sering mengadakan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) setiap tahun.

Paguyuban ini memilki program kerja utama yaitu bakti sosial dan kegiatan kemanusiaan pada masyarakat yang disalurkan melalui Yayasan Sugeng Sejahtera

5. Jogja Endang Club (JEC)

Jogja Endang Club (JEC) berdiri sejak 17 Agustus 2004, JEC sering berkumpul sebulan sekali dengan memakai batik sebagai upaya melestarikan produk buatan dalam negeri.

Para Endang ini memiliki kartu keanggotaan yang juga kartu diskon jika berbelanja di toko milik anggota lain yang juga bernama Endang.

JEC bahkan pernah menyabet penghargaan Muri sebagai perkumpulan pemilik nama Endang terbanyak di Indonesia pada 2008.

Dilansir dari laman Muri, di tahun 2008, JEC memiliki 320 anggota. Kemudian, tahun 2017 jumlah ini bertambah menjadi 600 orang.

Komentar