Soppeng Punya 15,3 Ribu Penduduk Miskin, Ternyata Ada “Fungsinya” Menurut Ahli

Ilustrasi (Ist)

DBS NEWS, SOPPENG – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah penduduk miskin di Kabupaten Soppeng ada sebanyak 15,34 ribu orang pada tahun 2025.

Jumlah ini mengalami penurunan tipis dibandingkan tahun 2024 yang masih berada di angka 15,90 ribu orang.

Terlepas dari lambatnya laju pengentasan kemiskinan, keberadaan penduduk miskin ternyata memiliki “fungsi” tersembunyi yang justru menopang jalannya sistem ekonomi, sosial, dan politik kita sehari-hari.

Hal itu diungkapkan oleh sosiolog asal Amerika Serikat, Herbert J. Gans, lewat tulisannya di American Journal of Sociology.

Di bidang ekonomi misalnya, menurut Herbert, keberadaan kelompok miskin berfungsi menjamin terselesaikannya pekerjaan kasar, kotor, dan berbahaya yang dihindari oleh kelompok tertentu.

Mereka juga dinilai bersedia menjadi buruh dengan upah rendah, serta memicu terciptanya berbagai lapangan pekerjaan informal seperti pedagang kaki lima dan pemulung.

Selain itu, keberadaan penduduk miskin juga menyediakan pasar bagi barang-barang berharga miring, makanan kedaluwarsa, beras jatah, dan pakaian rombeng.

Sementara itu, dalam bidang sosio-kultural, penduduk miskin menurut Herbert sering kali diposisikan sebagai pihak yang “dikorbankan” demi kepentingan pembangunan, misalnya buat pelebaran jalan atau fasilitas umum lainnya.

Di sisi lain, kehadiran mereka membuat profesi pekerja sosial, aktivis kemanusiaan, hingga agamawan menjadi lebih bermakna.

Buat kalangan kelas atas, mulai dari filantropis, bangsawan, klub eksklusif, ibu-ibu arisan sosialita, keberadaan warga miskin memberi “kesibukan” lewat berbagai kegiatan amal, yang membuat status sosial kelompok-kelompok mapan ini jadi semakin dihormati.

Adapun di bidang politik, penduduk miskin dianggap sebagai komoditas yang paling seksi. Tema “membela kaum miskin” selalu jadi jualan kampanye pemilu yang paling gampang dicerna dan paling laku keras.

Menurut Herbert, keberadaan mereka memberi panggung buat para birokrat dan politisi untuk pamer pencapaian program pengentasan kemiskinan.

Dan di balik itu semua, faktanya kaum miskin inilah yang jadi lumbung suara atau penyumbang pemilih terbesar dalam setiap kontestasi pemilu.

Jadi, jika ditarik benang merahnya, kemiskinan di daerah ternyata bukan cuma soal urusan perut dan statistik belaka, tapi juga menyimpan dinamika relasi sosial yang lebih kompleks di tengah masyarakat.

Penulis: Idham

Komentar