Ilustrasi penggunaan LPG 3 kg untuk pertanian (Ist)
DBS NEWS, SOPPENG – Kebutuhan LPG 3 kg sebagai bahan bakar mesin pompa air oleh para petani di Kabupaten Soppeng mencapai 127 tabung per hektare selama satu musim tanam.
Hal ini berdasarkan data Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP) Kabupaten Soppeng.
“Dalam satu hektare, mulai dari pertanaman sampai panen, petani bisa menggunakan sekitar 127 tabung gas,” ujar Pelaksana Harian (PLH) Kepala DTPHPKP Kabupaten Soppeng, Azis Dahlan, Rabu (15/7/2026).
Namun tingkat kebutuhan LPG tersebut masih bersifat fluktuatif, bergantung pada tingkat kebasahan lahan yang digarap petani.
“Kalau misalnya masih basah lahannya terus dia airi mungkin tidak terlalu banyak, tapi kalau memang sudah kering lahannya baru dimulai pasti banyak juga air yang dibutuhkan,” ujar Azis.
Menurut Azis, para petani cenderung memilih menggunakan LPG 3 kg karena dinilai memberikan keuntungan biaya operasional yang lebih efisien dibandingkan bahan bakar lain seperti Pertalite atau Solar.
Meski demikian, pihaknya menegaskan bahwa pemerintah tidak pernah menginstruksikan penggunaan LPG untuk keperluan irigasi pertanian.
“Petani punya pengalaman, mereka pasti sudah membandingkan menggunakan Pertalite atau Solar, tapi mungkin LPG lah yang dianggap paling menguntungkan.”
“Namun, perlu ditegaskan bahwa kami memang menganjurkan pompanisasi, namun kami tidak pernah menganjurkan menggunakan hal-hal yang tidak sesuai aturan,” tegasnya.
Terkait dampak jangka panjang, Azis membenarkan adanya ancaman kelangkaan LPG bagi masyarakat jika fenomena penggunaan gas bersubsidi untuk sektor pertanian ini terus berlanjut di tengah ancaman kemarau.
“Dengan kondisi saat ini, masih ada kurang lebih dua bulan sebelum masa panen. Jadi, jika kemarau terus terjadi sampai September, penggunaan LPG yang masif ini bisa menyebabkan kelangkaan,” ucapnya.
Penulis: Idham







Komentar