DBS NEWS, SOPPENG – Pernahkah terbesit dalam pikiran anda, apa jadinya jika Kabupaten Soppeng saat ini masih berbentuk kerajaan?.
Sebagaimana diketahui, sebelum abad ke-20, Soppeng merupakan suatu wilayah kerajaan yang disebut Kerajaan Soppeng.
Kerajaan Soppeng dikenal mempunyai wilayah kekuasaan serta pengaruh yang cukup luas diantara kerajaan-kerajaan lokal di Sulawesi Selatan.
Awalnya Soppeng disebut sebagai Kerajaan Kembar, yaitu Kerajaan Soppeng Riaja yang dipimpin oleh La Temmamala dan Kerajaan Soppeng Rilau yang dipimpin oleh La Temmapuppu.
Dalam perkembangannya, dua kerajaan tersebut menjadi satu kerajaan dibawah kepemimpinan La Mata Esso.
Lantas, seperti apa Kabupaten Soppeng jika masih dalam bentuk Kerajaan, beberapa hal berikut ini bisa menjadi kemungkinannya.
“Sorong Pawo” Jadi Sistem Pemerintahan

Dilansir dari Jurnal Penelitian karya Sritimuryanti tentang Budaya Politik Kerajaan Soppeng, disebutkan bahwa dalam sistem pemerintahan Kerajaan Soppeng dikenal istilah “Sorong Pawo”, maksudnya segala keputusan harus berasal dari raja.
Tetapi seorang raja disini tidak bersifat diktator, bahkan pengambilan keputusan dan kebijaksanaan pemerintah tidak hanya ditentukan oleh raja, melainkan mempertimbangkan pemufakatan dari para matoa atau pemuka masyarakat.
Perkembangan Kerajaan Soppeng dilihat dari masa awal muncul dan perjalanan sejarahnya selalu terikat dengan sistem adat yang hidup berkembang dalam masyarakat.
Semua hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan selalu dikontrol dan diukur baik buruknya, setiap langkah dan kebijakan yang akan diambil dan diterapkan harus sesuai dengan syariat Islam yang menjadi sistem kepercayaan masyarakat Soppeng.
Pemberian Status Raja Didasarkan pada Garis Keturunan

Jika di sistem demokrasi, kita mengenal pemungutan suara, maka hal tersebut jelas tak akan berlaku jika sistem kerajaan diterapkan.
Para calon pemimpin kerajaan setidaknya harus memiliki jalur darah atau biasanya disebut turun temurun dari raja sebelumnya.
Dikutip dari hukumonline, dalam pemilihan dengan sistem kerajaan, biasa dilakukan dengan dua cara yaitu hereditary monarch dan elective monarch.
Contoh pemilihan hereditary monarch adalah jika seorang pemimpin kerajaan meninggal atau turun tahta, maka tahta tersebut akan diturunkan kepada anaknya. Jika raja atau ratu tersebut tidak memiliki anak, maka tahta akan jatuh pada saudara atau sepupunya.
Sedangkan, elective monarch adalah pemberian status raja atau ratu yang didasarkan pada pemilihan. Namun pemilihan disini hanya dilakukan oleh kelompok elit kecil dalam lingkungan kerajaan.
Kemungkinan Perang Antar Wilayah Akan Semakin Besar

Dikutip dari IDN Times, sistem monarki atau kerajaan memiliki tujuan yang berbeda-beda, begitu juga dengan ambisi di dalamnya.
Daerah atau negara yang menjalankan sistem kerajaan biasanya memiliki kepentingan politiknya tersendiri.
Dampak dari hal tersebut jika sampai terjadi di masa kini adalah kemungkinan terjadinya perang. Perang tersebut biasanya disebabkan karena tujuan ekspansi wilayah atau penguasaan atas sumber daya tertentu.
Di masa Soppeng masih berbentuk kerajaan, ada sejumlah perang yang tercatat dalam sejarah, bahkan salah satunya adalah perang saudara antara Soppeng Riaja dan Soppeng Rilau di abad XVI.
Perselisihan di Kerajaan Soppeng ini muncul karena keinginan dari Raja Soppeng Rilau yang mencoba memperluas wilayah pengaruh dan kekuasaannya ke Soppeng Riaja.
Perluasan itu membuat hubungan antar dua kerajaan memburuk hingga timbul konflik diantara keduanya.
Hingga pada akhirnya perang yang terjadi itu dimenangkan oleh kerajaan Soppeng Riaja, yang selanjutnya menjadi cikal bakal terbentuknya Kerajaan Soppeng dengan satu Raja dibawah kepemimpinan La Mata Esso.
Tak hanya itu, perang juga sempat terjadi saat proses masuknya agama Islam di Soppeng, kerajaan Gowa yang ingin mengenalkan agama Islam kepada anggota persekutuan Tellumpocco-e, salah satunya Soppeng, justru tidak mendapat sambutan hangat.
Tak ayal, pada tahun 1608, Kerajaan Gowa mengirim bala tentara untuk berperang melawan kerajaan yang tergabung dalam persekutuan Tellumpocco-e.
Sempat kalah dalam perang, Kerajaan Gowa pada akhirnya sukses mengajak kerajaan-kerajaan Tellumpocco-e untuk memeluk agama Islam dengan pendekatan diplomatik. (id)







Komentar