DBS NEWS, SOPPENG – Kepercayaan masyarakat Soppeng terhadap peran Sanro Bola dalam tradisi membangun rumah Bugis ternyata telah menarik minat peneliti arsitektur dari Institut Teknologi Bandung (ITB).
Hasil penelitian itu pun telah dipublikasikan dalam Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5 Issue 1 April 2020, dengan judul penelitian ‘Peran Sanro Bola dalam Tradisi Membangun Rumah Tradisional Bugis di Kabupaten Soppeng’
Para peneliti, Asta Juliarman Hatta dan Iwan Sudradjat, mengungkap enam peranan penting terkait keterlibatan sanro bola dalam proses tradisi membangun rumah bugis di Kabupaten Soppeng.
Enam peran tersebut meliputi yaitu peran pemimpin, peran dalam pemilihan material, peran dalam pemilihan waktu dan hari yang baik, peran dalam memilih arah orientasi rumah, peran dalam mendirikan rumah, dan peran dalam penerapan filosofi sulapa eppa’e.

Dalam peran sebagai pemimpin, sosok sanro bola dinilai memiliki pengalaman dan pengetahuan yang diterima secara turun temurun, membuat masyarakat Bugis Soppeng selalu meminta pertimbangan dan nasehat-nasehat yang diberikan oleh sanro bola agar terhindar dari malapateka.
Gagasan yang dimiliki oleh sanro bola dipercaya akan mendatangkan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan selama berhuni di rumah tersebut.
Sedangkan dalam pemilihan material, peran sanro bola akan menentukan jenis dan kualitas kayu yang akan digunakan pada rumah Bugis Soppeng yang didominasi oleh penggunaan material kayu. Material yang digunakan akan memengaruhi ketahanan struktur rumah panggung pada umumnya.
Dalam peran pemilihan waktu dan hari yang baik, sanro bola dianggap memiliki suatu pedoman. Pedoman itu merupakan aturan dan norma yang digunakan dalam proses mendirikan rumah.
Jika mendirikan rumah pada hari dan jam yang tidak tepat, maka dipercaya penghuni rumah nanti kelak tidak akan mendapatkan apa-apa dalam hal pekerjaan maupun rezeki di rumah tersebut.
Dalam peran memilih arah orientasi rumah, sanro bola percaya bahwa rumah yang menghadap ke arah Timur merupakan orientasi rumah yang baik karena arah Timur merupakan arah terbitnya matahari yang dipercaya sebagai sumber kehidupan.

Dalam peran mendirikan rumah, sanro bola akan memberi penanda berupa kain kaci pada tiang pusat rumah (possi bola) sebagai tahap awal sebelum mendirikan kerangka rumah.
Kain kaci yang ditempelkan pada possi bola tersebut diisi oleh sesuatu hal yang manis-manis seperti kelapa, gula merah dan makanan manis lainnya. Dalam bahasa Bugis, sesuatu hal yang manis-manis disebut dengan sennureng.
Menurut pandangan sanro bola, harapan dengan memberi sesuatu yang manis-manis dipercaya rumah yang akan dihuni oleh pemilik rumah nantinya akan dimudahkan segala kecukupan dan rezeki oleh Tuhan.
Setelah proses pendirian kerangka possi bola didirikan, maka sanro bola akan memberikan kendali proses pendirian kerangka tiang rumah selanjutnya kepada panre bola (ahli tukang).

Sementara itu, dalam perannya untuk penerapan filosofi sulapa eppa’e. Para sanro bola atau panrita bola memiliki pandangan terhadap kosmologi ruang dengan konsep sulapa eppa’e (empat sisi), yang dapat diterapkan ke dalam 4 aspek, yaitu keseimbangan kehidupan, pandangan kosmologi, agama dan penerapannya terhadap rumah Bugis.
Salah satu contoh penerapan sulapa eppa’e yang diterapkan pada rumah Bugis Soppeng yaitu penerapan adzan di setiap sudut rumah. Proses adzan yang dilakukan oleh pemilik rumah sebelum meninggali rumah tersebut ditujukan agar penghuni dan isi rumah selalu diberi perlindungan oleh Tuhan.
Sanro bola memiliki keyakinan bahwa adzan yang diterapkan pada 4 titik sudut rumah tersebut adalah arah mata yang angin yang datang dari arah Ka’bah.
“Keenam proses yang diterapkan oleh sanro bola dalam proses mendirikan rumah Bugis bertujuan untuk memberi hal yang positif, manfaat, dan keselamatan bagi para penghuni rumah. Penerapan aturan, makna, dan filosofi yang dijadikan pedoman oleh sanro bola untuk mendirikan rumah secara garis besar diterapkan secara fisik dan nonfisik,” tulis para peneliti. (id)







Komentar